Menulis kreatif - Sutardji Calzoum Bachri : Mantra dan Puisi Konkret
1. Sutardji Calzoum Bachri : Mantra dan Puisi Konkret
Kecenderungan mutakhir pertama tentunya dibawa oleh Sutardji Calzoum Bachri. Yang pertama-tama kita lihat dari puisi-puisi Tardji adalah dihidupkannya kembali mantra Melayu dalam puisi Indonesia modern. Mantra berarti penggunakan kata-kata atau bunyi-bunyi yang berulang untuk menciptakan daya magis. Kecenderungan lain adalah puisi konkret yang kemudian banyak diikuti oleh penyair-penyair lainnya dalam menciptakannya.
a. Mantra
Mantra adalah susunaan kata yang mempunyai rima dan ritma dengan pemilihan kata-kata yang yang bersifat sublim sehingga memiliki kekuatan gaib. Mantra biasanya diucapkan oleh dukun atau pawang. Pawang hujan, pawang gajah, pawang harimau dukun percintaan penyakit dan sebagainya biasa membacakan mantra. Mantra mendatangkan magi putih ( untuk maksud baik ) dan magi hitam ( untuk maksud jahat ). Dalam bab 1 sudah dijelaskan bahwa di seluruh tanah air kita dikenal mantra. Mantra erat hubungannya dengan kehidupan kehidupan tradisional, disaat manusia masih terikat oleh gejala-gejala atau kekuatan alam.
Sutardji Calzoum Bachri menghidupkan kembali mantra. Bahkan dengan didukung “Kredo Puisi”-nya, seolah mantra merupakan ujud pengucapan jiwanya yang pas. Tardji menolak penjajahan makna kata terhadap puisi. Sebab itu, Tardji bebas bereksperimen dengan kata-kata yang secara umum tidak bermakna namun mengandung rima dan ritma serta kekuatan gaib. Justru kata-kata yang tidak umum atau yang jarang digunakan merupakan kata-kata yang mempunyai kemungkinan untuk berkekuatan gaib.
Dalam “Hus Puss” kita dapati bagian yang berbunyi demikian( dikutip secara bebas dan tidak mempedulikan bentuk grafisnya ) :
| Hai Kau dengan mantraku/ Kau dengar kucing memanggilMu/ izukalizu/ mapakazaba/ itasatali/ papaliko aru kabazaku/ kadega zuzukalibu/ tutukaliba dekodega zamzam lagotokoco/ zukuzangga zegezegeze zukuzangga zege/ zegeze zukuzangga zegezegeze zukuzangga/ ga zegezegeze zukuzangga zegezegeze zu/ kuzangga zegezegeze aahhh.......!/ nama kalian bebas/ carilah tuhan semaumu. ( Huss Puss : 68 ) |
| Kucing meronta dalam darah meraung me/ rambah barah darahku berapa juta hari/ dia mengerang berapa waktu dia/ menderu mencari mencakar menunggu. ( Ibid : 69 ) |
| Lima percik mawar/ tujuh sayap merpati/ sesayat langit perih/ dicabik puncak gunung/ sebelas duri sepi/ dalam dupa rupa/ tiga menyan luka/ mengasapi duka. Puah!/ kau jadi Kau!/ Kasihku. ( hal. 20 ) |
Didalam “Amuk” kita dapatlan pembalikan kata-kata berulang kali sehingga makna kata itu seolah kabur. Akan tetapi jika kita menyimak mantra, maka pembalikan kata dalam posisi yang tidak umum itu memang bisa dilakukan untuk memperoleh kekuatan pengucapan.
| Ngiau! Kucing dalam darah dia menderas/ lewat dia mengalir ngilu dia ber/ gegas lewat dalam aortaku dalam rimba/ darahku dia besar dia bukan harimau bu/ kan singa bukan hiena leopar dia/ macam kucing bukan kucing tapi kucing/ ngiau dia lapar dia menambah rimba af/ rikaku dengan cakarnya dengan amuknya/ dia meraung dia mengerang jangan beri/ daging dia tak mau daging jesus jangan/ beri roti dia tak mau roti ngiau. ( hal. 56 ) |
- Selanjutnya : Menulis kreatif - Puisi Konkret
Refrensi : Buku Menulis kreatif


01.16
DBF
Posted in:
0 komentar :
Posting Komentar