Menulis kreatif - Puisi Konkret
b. Puisi Konkret
Sutardji juga pelopor penulisan puisi konkret, yakni puisi yang mementingkan bentu grafis atau tatawajah yang disusun mirip dengan gambar. Di samping makna yang ingin disampaikan oleh penyair, ia juga ingin memperlihatkan kemanisan susunan kata-kata dan baris serta bait yang menyerupai gambar seperti : segitiga, huruf Z, kerucut, fandal, belah ketupat, segi empat, dan sebagainya. Untuk kepentingan bentuk grafisnya itu kadang-kadang penyair mengabaikan aturan-aturan tatabahasa dan ejaan bahasa Indonesia yang benar.
Dalam pemotongan suku kata, misalnya, Sutardji Calzoum Bachri banyak melakukan penyimpangan bahasa. Pergantian baris puisi mestinya harus diakhiri oleh satu kata penuh dan tidak oleh satu suku kata sebab antara baris yang satu dengan baris berikutnya sudah membentuk kesatuan sintaksis yang berbeda. Hal ini lain dengan baris-baris bahasa prosa. Pemenggalan suku kata demikian terjadi karena Tardji mementingkan grafis puisinya.| Ngiau! Kucing dalam darah ia menderas lewat dia mengalir ngilu ngiau dia ber gegas lewat dalam aortaku dalam rimba darahku dia besar dia bukan harimau bu kan singa bukan hiena bukan leopar dia macam kucing bukan kucing tapi kucing ngiau dia lapar dia menambah rimba af rikaku dengan cakarnya dengan amuknya |
| ( hal.56) |
Dalam kumpulan puisinya yang berjumlah lebih kurang 90 buah, banyak kita jumpai bentuk grafis. Penonjolan bentuk grafis mengakibatkan penomorduaan makna yang hendak disampaikan. Namun demikian karena penyair sering kali menunjukan makna dengan berbagai macam cara, maka bentuk grafisnya itu mungkin adalah merupakan lambang dari makna tertentu. Sebagai contoh, didepan telah dikemukakan bahwa bentuk zig-zag dalam “Tragedi Winka dan Sihka” merupakan lambang kegelisahan dan ketidakmenentuan. Pembalikan kata /kawin/ menjadi /winka/ dan /kasih/ menjadi /sihka/ juga merupakan contoh adanya makna tersembunyi di balik bentuk lahir puisi itu.
Sajak - sajak yang ditulis dalam bentuk segi – 4 adalah “Sculpture”, “Ngiau”, “Amuk”, “Mesin Kawin”, “Kucing”, “Tapi”, dan sebagainya. Bentuk lain dari puisinya adalah baris-baris yang menjorok kedalam atau menjorok keluar sehingga mirip dengan huruf Z atau potongan huruf tersebut. Bentuk mirip huruf Z itu sering kali juga berupa dua kalimat yang menunjukan hubungan sebab akibat.
| Aku bawakan bunga padamu Tapi kau bilang masih Aku bawakan resahku padamu Tapi kau bilang hanya Aku bawakan darahku padamu Tapi kau bilang Cuma Aku bawakan dukaku padamu Tapi kau bilang meski Aku bawakan mayatku padamu Tapi kau bilang hampir Aku bawakan arwahku padamu Tapi kau bilang kalau Tanpa apa aku datang padamu Wah! (hal. 91) |
| Hujan Bercakapcakap Sama daunan Sama pohon Sama batu-batu Sama badan Sama jam Sama rindu-rindu (hal.199) |
| daun burung sungai kelepak mau sampai langit siapa tahu buah rumput selimut dada biru langit dadu mari! rumput pisau batu kau kau kau kau kau kau kau kau kau kau KAU kau kau kau kau kau kau kau kau kau kau kau (hal. 34) |
Bentuk mirip segi tiga yang luka-luka ini kiranya juga mirip sebuah candi yang melambangkan pencarian kesempurnaan hidup atau pencarian Tuhan. Bentuk lain adalah bentuk seperti salib yang kita dapati dalam “Pot”.
Meskipun pariyem tidak dinikah secara resmi oleh orang yang telah menghamilinya, namun nada gembira dan pasrah masih tetap nampak dalam dirinya.
| Hari-hari sepi pasti saya lalui/tapi kegembiraan batin menyertai/tak ada nikah,tak ada upacara resmi/tak ada gendhing’’kebo giro’’ resepsi/antara ngayogyaharta dan wonosari/dalam baying bersatu sunyi. ( PP: 155 ) |
| Bila umur dia sudah setahun/ Endang Sri Setianingsih saya titip/ Bapak dan simbok yang merawat dia/ Painem momong saban harinya/ apabila inem pergi ke pasar/ atau mengirim bapak ke sawah/ Pairin menggantikan momong Endang/ sambil dia menganyam caping/ O, saya bayangkan keluarga sibuklah/ di jagad Wonosari Gunung Kidul. . . . . . . . . . . . . . . . . . . Dari Wonosari Gunung Kidul/ saya pun kini mondar-mandir/ mondar-mandirlah saya kini/ Antara Kota Ngayogya dan dusun Wonosari/ antara dusun Wonosari dan kota Ngayogya/ Dua tempat satu jagad/ O, di sini saya hidup/ di sini saya bercinta/ Mas Piman, O ,Mas Paiman/ Saya tetap tinggal sebagai sedia kala. ( PP: 178-79 ) |
Refrensi : Buku Menulis kreatif


01.19
DBF
Posted in:
0 komentar :
Posting Komentar