Jumat, 24 Januari 2014

Menulis kreatif - Puisi Konkret

Menulis kreatif - Puisi Konkret

b. Puisi Konkret

Sutardji juga pelopor penulisan puisi konkret, yakni puisi yang mementingkan bentu grafis atau tatawajah yang disusun mirip dengan gambar. Di samping makna yang ingin disampaikan oleh penyair, ia juga ingin memperlihatkan kemanisan susunan kata-kata dan baris serta bait yang menyerupai gambar seperti : segitiga, huruf Z, kerucut, fandal, belah ketupat, segi empat, dan sebagainya. Untuk kepentingan bentuk grafisnya itu kadang-kadang penyair mengabaikan aturan-aturan tatabahasa dan ejaan bahasa Indonesia yang benar.

Dalam pemotongan suku kata, misalnya, Sutardji Calzoum Bachri banyak melakukan penyimpangan bahasa. Pergantian baris puisi mestinya harus diakhiri oleh satu kata penuh dan tidak oleh satu suku kata sebab antara baris yang satu dengan baris berikutnya sudah membentuk kesatuan sintaksis yang berbeda. Hal ini lain dengan baris-baris bahasa prosa. Pemenggalan suku kata demikian terjadi karena Tardji mementingkan grafis puisinya.

Ngiau! Kucing dalam darah ia menderas

lewat dia mengalir ngilu ngiau dia ber

gegas lewat dalam aortaku dalam rimba

darahku dia besar dia bukan harimau bu

kan singa bukan hiena bukan leopar dia

macam kucing bukan kucing tapi kucing

ngiau dia lapar dia menambah rimba af

rikaku dengan cakarnya dengan amuknya

( hal.56)

Kita lihat baris ke-2, ke-4, dan ke-7 terdapat suku kata / ber- /, / bu-/, dan / af- / yang merupakan bagian dari baris berikutnya. Demi kepentingan bentuk grafisnya ( agar puisi ini benar-benar ujung tepi kiri dan kanannya  lurus sepeti segi-4 ) maka dilakukan pemotongan kata tersebut. Didalam puisi konvensional tidak mungkin terjadi pemotongan kata semacam itu.

Dalam kumpulan puisinya yang berjumlah lebih kurang 90 buah, banyak kita jumpai bentuk grafis. Penonjolan bentuk grafis mengakibatkan penomorduaan makna yang hendak disampaikan. Namun demikian karena  penyair sering kali menunjukan makna dengan berbagai macam cara, maka bentuk grafisnya itu mungkin adalah merupakan lambang dari makna tertentu. Sebagai contoh, didepan telah dikemukakan bahwa bentuk zig-zag dalam “Tragedi Winka dan Sihka” merupakan lambang kegelisahan dan ketidakmenentuan. Pembalikan kata /kawin/ menjadi /winka/ dan /kasih/ menjadi /sihka/ juga merupakan contoh adanya makna tersembunyi di balik bentuk lahir puisi itu.

Sajak - sajak yang ditulis dalam bentuk segi – 4 adalah “Sculpture”,  “Ngiau”,  “Amuk”,  “Mesin Kawin”,  “Kucing”,  “Tapi”, dan sebagainya. Bentuk lain dari puisinya adalah baris-baris yang menjorok kedalam atau menjorok keluar sehingga mirip dengan huruf Z atau potongan huruf tersebut. Bentuk mirip huruf Z itu sering kali juga berupa dua kalimat yang menunjukan hubungan sebab akibat.

Aku bawakan bunga padamu
Tapi kau bilang masih
Aku bawakan resahku padamu
Tapi kau bilang hanya
Aku bawakan darahku padamu
Tapi kau bilang Cuma
Aku bawakan dukaku padamu
Tapi kau bilang meski
Aku bawakan mayatku padamu
Tapi kau bilang hampir
Aku bawakan arwahku padamu
Tapi kau bilang kalau 
Tanpa apa aku datang padamu
                                          Wah!
(hal. 91)
Bentuk grafis yang berupa larik-larik menjorok kedalam sering kali pula tidak membentuk huruf Z namun terus menjorok kedalam, seperti puisinya “Hujan” (hal.119). bentuk itu terulang hingga 4 kali.
 
Hujan
            Bercakapcakap
                        Sama daunan
                                    Sama pohon
                                                Sama batu-batu
Sama badan
            Sama jam
                        Sama rindu-rindu

                                                (hal.199)

Bentuk serupa ini kita dapatkan juga dalam “Bayangan”, “Warisan”, “Biarkan”, dan “Mari”. Ada juga bentuk grafis yang menunjukan luka-luka, seperti dalam “Daun” dan “Hyang?”. Coba kita hayati luka-luka dalam puisinya ini.
 
daun
                             burung
                                        sungai
kelepak
mau sampai                langit
                                      siapa     tahu
buah                    rumput             selimut
dada               biru
                                    langit   dadu
mari!
                              rumput    pisau      batu           kau
                   kau   kau        kau                kau    kau  kau
                       kau  kau   kau                          KAU  kau   kau   kau
                          kau   kau         kau                    kau    kau    kau   kau
kau

(hal. 34)

Bentuk mirip segi tiga yang luka-luka ini kiranya juga mirip sebuah candi yang melambangkan pencarian kesempurnaan hidup atau pencarian Tuhan. Bentuk lain adalah bentuk seperti salib yang kita dapati dalam “Pot”.

Meskipun pariyem tidak dinikah secara resmi oleh orang yang telah menghamilinya, namun nada gembira dan pasrah masih tetap nampak dalam dirinya.

Hari-hari sepi pasti saya lalui/tapi kegembiraan batin menyertai/tak ada nikah,tak ada upacara resmi/tak ada gendhing’’kebo giro’’ resepsi/antara ngayogyaharta dan wonosari/dalam baying bersatu sunyi.

( PP: 155 )

Setelah anaknya lahir ,pariyem berhak menyusui dan memelihara anaknya yang diberi nama Endang Sri Setianingsih.setelah anaknya berumur satu tahun, dengan rela hati, tanpa rasa sedih dan tanpa protes, ia menitipkan anaknya dirumah orang tuanya di Gunung Kidul agar ia tetap menjadi babu dirumah Tumenggung Cakra Sentana. Rasa bahagia dan pasrah itu Nampak sekali dalam bait-bait tersebut di bawah ini :

Bila umur dia sudah setahun/ Endang Sri Setianingsih saya titip/ Bapak dan simbok yang merawat dia/ Painem momong saban harinya/ apabila inem pergi ke pasar/ atau mengirim bapak ke sawah/ Pairin menggantikan momong Endang/ sambil dia menganyam caping/ O, saya bayangkan keluarga sibuklah/ di jagad Wonosari Gunung Kidul.

. . . . . . . . . . . . . . . . . .

Dari Wonosari Gunung Kidul/ saya pun kini mondar-mandir/ mondar-mandirlah saya kini/ Antara Kota Ngayogya dan dusun Wonosari/ antara dusun Wonosari dan kota Ngayogya/ Dua tempat satu jagad/ O, di sini saya hidup/ di sini saya bercinta/ Mas Piman, O ,Mas Paiman/ Saya tetap tinggal sebagai sedia kala.

( PP: 178-79 )

Demikianlah sekedar contoh sikap pasrah dan nrimo wanita tak berdaya, pembantu rumah tangga yang mengetuk nurani kita. Protes yang disampaikan tidak terus terang, namun melalui kisah yang bersifat kontradiktif. Kisah seorang yang sangat pasrah akan nasib jelek yang menimpanya, akan mengetuk nurani pembaca untuk berusaha memberikan bantuan atau sekedar simpati. Pembantu wanita yang tidak berdaya itu juga manusia seperti kita semua yang harus diperlukan sebagai manusia.
 
  • Sebelumnya : Menulis kreatif - Sutardji Calzoum Bachri : Mantra dan Puisi Konkret
  • Selanjutnya : Menulis kreatif - Soempah WTS dan Catatan Harian Sang Koruptor

    Refrensi : Buku Menulis kreatif

  • 0 komentar :

    Posting Komentar

     
    Design by Blogger Indonesia | Bloggerized by Pratama