Jumat, 24 Januari 2014

Menulis kreatif - Soempah WTS dan Catatan Harian Sang Koruptor

Menulis kreatif - Soempah WTS dan Catatan Harian Sang Koruptor

2. Soempah WTS dan Catatan Harian Sang Koruptor.

Dibandingkan dengan kritik-kritik social yang disampaikan Rendra, kritik sosial Rahardi ini jauh lebih bersifat detil dan operasional. Sajak-sajaknya mengesankan kepada kita bahwa Rahardi terjun ke lapangan untuk mengobservasi keadaan yang sebenarnya. Karyanya bukan sekedar gambaran global tentang kepincangan social, namun detil peristiwa tentang terjadinya kepincangan social itu.

Dalam Catatan Harian Sang Koruptor (CHSK) secara jenaka penyair menyindir para pejabat dalam sajaknya”Tentang Rakyat”.

Tuhan/ menciptakan aurat dan syahwat/ pabrik tekstil/menciptakan/ kutang dan/ cawat.

( CHSK : 29 )

Penyair melihat kenyataan bahwa di daerah transmigrasi para transmigran tidak menemui apa yang diimpkan. Jika ketika di Gunung Kidul mereka memimpikan untuk bebas dari singkong dan makan nasi beras setiap hari, maka kenyataan yang dihadapi ternyata mereka masih tetap makan singkong.

Dia selalu singkong/ dan terus menerus singkong/ hari ini singkong/ tadi malam singkong/ besok mungkin singkong/ besuknya lagi juga singkong/ di rumah sepotong singkong/ di lading seikat singkong/ di pasar segerobok singkong/ di rumah tetangga sepiring singkong/ enam bulan lagi tetap singkong/ setahun lagi tetap singkong/ sepuluh tahun lagi masih singkong/ duapuluh tahun lagi makin singkong/ dan limapuluh tahun kemudian/ transmigran beruban/ sakit-sakitan/ mati/ lalu dikubur di lading singkong.

(SWTS: 15)

Kritik kepada para WTS nampak sekali dalam sajak-sajaknya “Boxer l” dan “Boxer II”. Lambang-lambang yang diciptakan bersifat main-main tetapi mengenai sasaran.

maimunah rindu tinju/ dia tabung/ pantat demi pantat/ sampai mampat lubang kancing/ malam ditinju/ malam/ kamar menindih/ kamar/ pistol parker di/ kasur/ lampu menetes/ kolor/ lunglai/ di/ lantai.

Maimunah/ nangis/ dia/ rindu seragam/ hansip/ dia rogoh/ dompet/ demi/ dompet/ sampai lecet/ tulang/ leher.

(SWTS: 22)

Bahwa banyak sarjana yang sangat sibuk dan gemar korupsi, dikemukakan penyair dalam sajaknya “Doktorandus Tikus II”. Dalam sajak-sajaknya, penyair banyak menggunakan binatang tikus sebagai lambing koruptor.

Pagi/ kuliah/ siang/ ngantor/ sore korupsi /dan / malam/ digerogotinya/ tuhan/ pelan/ pelan/ di/ tanah  abang/ bongkaran.

(SWTS: 26)

Sarjana koruptor itu ternyata amoral. Malam hari mereka ke Tanah Abang Bongkaran mencari WTS kelas teri. Sajak yang berjudul “Soempah WTS” menyindir para wanita penghibur sebagai kelas manusia yang merendahkan martabat bangsa. Ia menyebut mereka dari kelas tempe, tahu, batu, pantat, tokek, yang hanya ingin menggait langganan.

Kami/bangsa/ tokek/ bertarget/ satu/ menggaet/ tuhan/ jadi/ langganan.

(SWTS: 29)

Kritiknya terhadap koruptor lebih gancar dalam Catatan Harian Sang Koruptor (CHSK). Ia masih menyebut koruptor itu sebagai tkus. Maka tikus itu melalap apa saja. Melubangi Kebun rakyat, mencari cek lembar demi lembar, mencari bini muda, membeli mobil, gedung, memanipulasi karet KD, dan sebagainya. Koruptor tidak usah dicari karena tiap hari dating kepada penyair. Dalam sajaknya “Kuitansi dilukiskan bahwa koruptor melakukan korupsi pada apa saja yang dapat dikorupsi. Bahkan binatang-binatang yang dilindungi dijual untuk kepentingan sendiri.

Telah terima dari/ Jepang, Eropa, Amerika dan Timur Tengah/ uang sebanyak RP.100.000.000.000,00/ (Seratus Miliar Rupiah saja) untuk forskot (uang muka/panjar)/ pembelian negeri/ nan tercinta ini berikut/ ikan paus, badak, pohon pisang/ dank ere-kere yang/ sedang sekarat/ di trotoar/ Metropolitan Jakarta.

(CHSK: 38)

Demikianlah kritik sosial terhadap kepincangan yang terjadi dalam masyarakat. Masih banyak contoh-contoh lain dan penyair lain yang mengemukakan kritik social. Berikut ini akan dikemukakan kecenderungan lainnya yakni adanya bahasa yang lugu dalam puisi-puisi penyair mutakhir.

Sebelumnya : Menulis kreatif - Puisi Konkret

Selanjutnya : Menulis kreatif - Yudhistira, Sides Sudyarto, dan Remy Silado : Puisi Lugu

Refrensi : Buku Menulis kreatif

0 komentar :

Posting Komentar

 
Design by Blogger Indonesia | Bloggerized by Pratama